Rabu, 15 Februari 2012

Pemasangan Infus pada Pasien Febris



BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

            Praktik KDPK di lapangan mengaplikasikan yang kami peroleh di kampus, tetapi di lahan praktik ini dengan teori yang di dapatkan sangatlah berbeda. Selama praktik di sini kami mendapatkan pengalaman yang sangat banyak dan berharga,yang sangat bermanfaat bagi kami.
       Maka dalam penyusunan makalah ini, kami dapat mengerti perbedaan antara praktik lapangan dengan teori yang kami dapat dikampus selama ini.Disini kami ingin mengetahui perbedaan antara teori terapi intra vena atau yang biasa disebut pemasangan cairan infus denngan prakteknya dilahan.
       Sehingga sehubungan dengan hal tersebut makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang terapi intra vena atau pemasangan infuse.

B. Tujuan
     Tujuan umum
Dalam penulisan makalah ini bertujuan untuk memgetahui tata cara terapi intra  vena atau pemasangan infuse dengan benar.
     Tujuan khusus
- Untuk mengetahui bagaimana terapi intra vena atau pemasangan infus.
            - Untuk mengetahui alat – alat pada pemasangan infuse.
            - Untuh mengetahui langkah – langkah dalam pemasangan infuse.









BAB II
PEMBERIAN CAIRAN INFUS

A.Pengertian
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien  dengan cara memasukkan cairan melalui Intra Vena dengan bantuan perangkat infus.

B.Tujuan
1. Untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
2. Sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

C.Tempat Injeksi Intra Vena
       Injeksi intra vena biasanya sering dilakukan pada daerah – daerah :
1. Vena Mediana cubiti / vena cephalica Cubiti (pada lengan)
2. Vena Mediana Antrebaki
3. Vena Jugularis ( pada leher ).
4. Vena Saphenosus ( pada tungkai ).
5. Vena Frontalis / Vena  temporalis (pada kepala ).
6.Vena Dorsalis Pedis ( pada kaki )
 

D. Komplikasi
1. Hematoma,yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh        darah arteri vena,atau kapiler,terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah.
2. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infuse ke dalam jaringan sekitar ( bukan pembuluh darah ), terjadi akibat ujung jarum infuse melewati pembuluh darah.
3. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi ) pada pembuluh vena, terjadi akibat infuse yang di pasang tidak di pantau secara ketat dan benar.
4. Emboli udara,yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infuse ke dalam pembuluh darah.


E. Keadaan Yang Memerlukan Pemberian Infus
1.Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
2.Trauma abdomen (perut)berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
3.Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha).
4.Serangan panas (heat stroke).
5.Diare dan demam.
6.Luka bakar luas
7.Semua trauma kepala,dada,dan tulang punggung.

F. Persiapan Alat
Bak/ troly berisi :
1.Set infus
2.Kapas alkohol
3.Cairan infus
4.Betadine,kasa steril,bidai pembalut bila perlu
5.Bengkok,pengalas (perlak kecil )
6.Abocath sesuai ukuran
7.Tiang infus
8.Plester dan gunting verban
9.Slauch/ torniquet
10.Sarung Tangan

G. Pre Interaksi
1.Persiapan alat
2.Perkenalan dan salam
3.Menjelaskan tujuan
4.Menjaga privasi
5.Mendekatkan alat
H. Interaksi
1.Mencuci tangan.
2.Membebaskan pakaian di daerah yang akan di pasang infus.
3.Menggantung botol infus di tiang.
 4.Membuka set infus,mengeluarkan jarum udara dan menusukkan pada tutup botol       infus. Plabot plastik tidak perlu di berikan jarum udara.
5.Selang infus di klem, jarum pipa infus di tusukkan ke dalam botol infus, isi tabung udarasetengah bagian, alirkan cairan sampai seluruh selang terisi cairan. Jangan  sampai ada gelembung pada selang,kemudian di klem kembali.
6. Menutup jarum infus dengan penutupnya, kemudian di gantungkan pada tiang infus.
 7. Membendung anggota badan yang akan di infus menggunakan tornequet agar vena       terlihat jelas.
8.  Menghapushamakan kulit dengan kapas alkohol.
9. Menusukkan jarum infus (abocath) ke dalam vena, lubang jarum masuk tepat ke vena, melepas karet pembendung, membuka klem, melihat kelancaran cairan.
10. Mengoles betadine pada pangkal abocath, menutup pangkal jarum dngan kasa steril dan merekatkan plester pada kulit.
11. Memasang bidai bila di perlukan, misal anak –anak, orang dewasa tidak sadar.
12. Mengatur tetesan infus sesuai kebutuhan.
13. Merapikan pasien, membereskan alat.
14.Melakukan pendokumentasian; nama  & kamar pasien, tanggal& jam, macam &  jumlah cairan, jumlah tetesan per menit.
I.  Terminasi
1. Mengakhiri Tindakan
2. Menanyakan Respon
3. Merapikan Alat
4. Dokumentasi
5. Salam Perpisahan.






















BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGELOLAAN PASIEN Tn. M
DENGAN PRASAT PEMENUHAN KESEIMBANGAN CAIRAN
YANG MELIPUTI PEMASANGAN INFUS
DI RUANG IGD RSI SULTAN HADLIRIN JEPARA

A.DATA SUBJEKTIF
Pasien mengeluh badannya panas dan kepalanya pusing.

IDENTITAS PASIEN                                         PENANGGUNG  JAWAB
1. Nama              : Tn. M                                        1. Nama              : Ny.W
2. Umur               : 35 tahun                                   2. Umur              : 38 tahun
3. Agama             : Islam                                        3. Agama            : Islam
4. Pendidikan       : SMP                                        4. Pendidikan      : SD            
5. Pekerjaan         : Wiraswasta                              5. Pekerjaan        : Ibu Rumah Tangga
6. Status               : Menikah                                  6. Status              : Menikah
7. Suku Bangsa    : Jawa                                        8. Suku Bangsa   : Jawa
8. Alamat             : Ds. Bandengan                        9. Alamat            : Ds. Bandengan

B.DATA OBJEKTIF
Suhu                 : 40 o C
Tekanan Darah : 130/90 mmHg
Nadi                  : 119 x/’
Respirasi            : 30 x/’
PEMERIKSAAN  FISIK
Kulit                  : Hiperpigmentasi
Kepala               : Rambut Bersih
Mata                  : Konjungtiva tidak anemis,sclera tidak ikhterik
Telinga              : Tidak ada kotoran telinga
Hidung              : Tidak terdapat polip
Mulut dan Gigi : Bibir tidak kering
Leher                 : Tidak terjadi pembesaran kelenjar tiroid
Dada dan ketiak : Dada simetris, ketiak tidak terdapat kelenjar limfe
Abdomen           : tidak ada nyeri tekan
Pinggang            : Tidak terdapat nyeri tekan
Genetalia            : Bersih, tidak ada PMS
Ektremitas          : Terdapat odema
Punggung           : Tidak lordosis
Anus                   : Tidak ada haemoroid

C. ASSESMENT
Tn. M umur 35 tahun dengan febris.

D.PLANNING
Kolaborasi dengan medis untuk pemasangan infuse.

E. IMPLEMENTASI                       tanggal : 6 Mei 2011              jam : 10.00 WIB
a.Persiapan Alat
Bak / trolly berisi :
1. Set infus
2. Kapas alkohol
3. Cairan infuse
4. Betadine,kasa steril,bidai pembalut bila perlu
5. Bengkok,pengalas (perlak kecil )
6. Abocath sesuai ukuran
7. Tiang infus
8. Plester dan gunting verban
9. Slauch/ torniquet
10. Sarung Tangan
b. Pre Interaksi
1.Persiapan alat
2.Perkenalan dan salam
3.Menjelaskan tujuan
4.Menjaga privasi
5.Mendekatkan alat
c. Interaksi
1. Mencuci tangan,memakai handscoon.
2. Membebaskan pakaian di daerah yang akan di pasang infus.
3. Menggantung botol infus di tiang.
4. Membuka set infus,mengeluarkan jarum udara dan menusukkan pada tutup botol      Infus. Plabot plastik tidak perlu di berikan jarum udara.
5. Selang infus di klem, jarum pi[pa infus di tusukkan ke dalam botol infus, isi tabung udarasetengah bagian, alirkan cairan sampai seluruh selang terisi cairan. Jangan  sampai ada gelembung pada selang,kemudian di klem kembali.
6. Menutup jarum infus dengan penutupnya, kemudian di gantungkan pada tiang infus.
7. Memasang perlak di bawah daerah yang akan di suntik.
8. Membendung anggota badan yang akan di infus menggunakan tornequet agar vena terlihat jelas (10-12 cm).
9. Menghapushamakan kulit dengan kapas alcohol untuk desinfeksi.
10. Menusukkan jarum infus (abocath) ke dalam vena (sudut 200 ), lubang jarum masuk tepat ke vena,buka torniquet, membuka klem, melihat kelancaran cairan.
10.Mengoles betadine pada pangkal abocath, menutup pangkal jarum dngan kasa steril dan merekatkan plester pada kulit.
12. Mengatur tetesan infus sesuai kebutuhan,dengan tetesan 20/menit.
13. Merapikan pasien, membereskan alat.
14.Melakukan pendokumentasian; nama  & kamar pasien, tanggal& jam, macam &  jumlah cairan, jumlah tetesan per menit.
d. Terminasi
   1. Mengakhiri Tindakan
      2.Menanyakan Respon
   3. Merapikan Alat
   4. Dokumentasi
   5. Salam Perpisahan

H. EVALUASI                                  tanggal : 6 Mei 2011              jam : 10.00 WIB
   Respon            : Pasien kooperatif.
            KU                  : Pasien compos mentis.
Hasil akhir       : Tetesan infuse 20/mnt,infuse menetes dengan lancar.

BAB IV
PEMBAHASAN

1.      Mencuci tangan saat melakukan tindakan di lakukan untuk mencegah adanya transfer penyakit dari pasien ke petugas kesehatan.
2.      Kontraindikasi pemasangan cairan infuse melalui intra vena :
a.       Inflamasi ( bengkak,nyeri,demam ) dan infeksi di lokasi pemasangan infuse.
b.      Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan di gunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt ) pada tindakan hemodialisis (cuci darah ).
c.       Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (missal pembuluh vena di tungkai dan kaki ).
3.      Upaya profilaksis ( tindakan pencegahan ) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar  dengan resiko perdarahan, di pasang jalur infuse intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat).
4.      Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat di pasang jalur infuse.
















BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pemasangan infuse pada pasien febris di harapkan dapat membantu pasien dalam mengembalikan cairan dalam tubuh pasien.
B.     Saran
Saat melakukan pemasangan infuse pada pasien sebaiknya menggunakan handscoon.

























DAFTAR PUSTAKA

Uliyah, Musrifatul.2006. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan.Salemba Medika:Jakarta.
Syaifudin, Ahmad.2004.Ketrampilan dan Prosedur Keperawatan Dasar.Kilat Press : Semarang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar